Guru Bimbel

--

Oleh: Dahlan Iskan

Sebenarnya ini tumben: Presiden Donald Trump mau hadir di acara yang ia sangat benci. Yakni acara tahunan kumpul-kumpul sesama wartawan yang bertugas meliput di Gedung Putih.

Belum pernah Trump menghadiri acara tahunan itu. Baru kali ini: belum lagi acara dimulai Trump sudah diungsikan. Itu karena ada suara tembakan di teras depan ballroom hotel Hilton, Washington, Minggu malam.

Trump sebenarnya sudah duduk di kursi depan. Acara sudah siap dimulai. Tiba-tiba terdengar suara tembakan itu. Sekali Trump hadir acaranya tidak jadi.

Kenapa Trump benci acara itu, Anda sudah tahu: bermula dari acara yang sama sekitar 18 tahun lalu. Waktu itu Trump sudah kaya tapi belum dianggap VIP. Duduknya tidak di depan. Tidak pula di deretan depan. Ia duduk di satu meja dengan beberapa undangan lain di bagian tengah ballroom. Saya lupa dengan siapa saja ia satu meja saat itu.

Ballroom Hilton sangat besar. Bisa untuk 300 meja bundar. Satu meja diisi 10 orang. Bisa 2500 undangan. Penyelenggara acara adalah pengurus persatuan wartawan Gedung Putih. Pengurus ”menjual” meja itu kepada para penerbit media. Harga per meja bervariasi tergantung posisi meja.

Perusahaan media lantas mengundang relasi masing-masing untuk mengisi meja tersebut. Waktu itu kemungkinan besar Trump diundang oleh salah satu stasiun TV --mengingat ia pengasuh satu acara di TV.

Acara makan malam wartawan istana itu sangat terkenal. Selalu menarik perhatian publik Amerika. Tema tiap tahunnya selalu seksi: gojlogan politik. Utamanya dari pengisi pokok acara: komedian. Tiap tahun selalu ditampilkan bintang komedi terkemuka Amerika.

Di komedi itu politisi Amerika biasanya digoreng habis sampai gosong. Termasuk presiden siapa pun. Di sana komedian bisa mengolok-olok presiden sampai lungset. Anehnya hampir semua presiden hadir di acara tahunan itu. Presiden yang punya selera humor tinggi menggunakan kesempatan itu untuk ganti menggoreng orang media. Terutama yang suka mengkritiknya.

Salah satu yang punya selera humor adalah Obama. Tidak jelas apakah Obama tahu bahwa malam itu ada Trump di tengah-tengah yang hadir. Posisi duduk Trump tidak mudah dilihat dari podium. Silau.

Begitu lucunya gorengan Obama praktis tawa dan tepuk tidak henti-hentinya. Salah satu yang digoreng Obama adalah Donald Trump --memanfaatkan isu bahwa Trump ingin jadi calon presiden suatu saat kelak.

Dari podium Obama mengejek habis Trump. Intinya: mana mungkin orang seperti Trump bisa maju jadi calon presiden.

Saya masih ingat Trump tidak tersenyum sama sekali. Wajahnya kecut. Ia terlalu sensi. Padahal orang semejanya tidak henti-hentinya tertawa. Para presiden pun umumnya ikut tertawa saat diri mereka digoreng.

Jangan-jangan gegara digoreng Obama malam itu muncul pikiran Trump untuk serius maju sebagai capres. Obama sendiri mungkin menyesal telah menyiramkan bensin ke hati Trump yang paling dalam.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan