Program MBG Picu Lonjakan Harga, Pengusaha Telur Soroti Ketergantungan Pasokan Luar Daerah
--
RAKYATBENTENG.BACAKORAN.CO – Program Strategis Nasional (PSN) Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membawa dampak besar terhadap kebutuhan pangan masyarakat, khususnya bahan pokok telur ayam. Lonjakan permintaan yang signifikan disebut turut memicu kenaikan harga, sementara pasokan lokal di Provinsi Bengkulu dinilai masih terbatas.
Pemilik kandang ayam petelur di Kabupaten Bengkulu Tengah, Norman Effendi, mengungkapkan bahwa dari sisi pengusaha, program MBG memberikan peluang ekonomi yang cukup menjanjikan. Namun di sisi lain, dampaknya terhadap stabilitas harga bahan pokok justru menjadi kekhawatiran tersendiri.
BACA JUGA:MDPT dan MDST Desa Tengah Padang Jadi Ajang Pertanggungjawaban APBDes 2025
“Kalau dilihat dari kacamata pengusaha, tentu kami tersenyum karena secara hukum ekonomi, permintaan naik maka harga ikut naik. Tetapi kalau dikaji lebih dalam, dampaknya justru membuat harga bahan pokok semakin mahal,” ujar Norman, Senin.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut sangat dirasakan masyarakat kecil, khususnya buruh harian dengan pendapatan tetap. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga kebutuhan pokok.
“Bayangkan buruh harian dengan penghasilan Rp150 ribu per hari. Dulu masih bisa menabung Rp50 ribu, sekarang bagaimana mau menabung kalau harga bahan pokok naik tajam. Ayam yang sebelumnya Rp25 ribu kini sudah lebih dari Rp40 ribu, telur mahal, cabai juga mahal,” jelasnya.
BACA JUGA:Keterlambatan BLT di Pekik Nyaring Disorot, PMD dan Camat Bakal Evaluasi
Norman menjelaskan, sebelum program MBG berjalan, pasokan telur ayam di Bengkulu masih bergantung pada daerah luar, terutama dari Sumatra Barat. Bahkan, lebih dari 60 persen kebutuhan telur disebut masih dipasok dari luar daerah.
“Kalau kebutuhan mencapai tiga juta butir telur per bulan, produksi lokal mungkin hanya sekitar satu juta. Selebihnya masih bergantung dari luar. Dengan adanya MBG, apakah pengelola bisa memastikan kebutuhan terpenuhi setiap hari tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat umum,” kata Norman.
Ia juga menyoroti peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai belum maksimal dalam menyerap bahan baku lokal. Padahal, menurutnya, keberhasilan MBG juga sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok di daerah.
BACA JUGA:Lewat MDPT dan MDST, Pemdes Jum’at Paparkan Kinerja dan Realisasi APBDes 2025
“Program MBG ini ada plus dan minusnya. Asalkan pihak SPPG benar-benar memikirkan pasokan secara matang. Sekarang memang sudah ada program kandang BUMDes, tapi kapasitasnya masih kecil, sekitar 1.000 ekor per kandang,” tambahnya.
Norman menyebut beberapa daerah seperti Manna, Kaur, dan Seginim mulai memiliki potensi untuk menunjang pasokan telur. Namun, kondisi tersebut belum terlihat di Kabupaten Bengkulu Tengah.
“Kalau di Bengkulu Tengah, sejauh yang saya tahu, belum ada yang benar-benar bisa menopang kebutuhan besar seperti MBG ini,” pungkasnya.(one)