Kisah Hamdan, Perajin Batu Giling dari Taba Penanjung yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Teknologi
--
RAKYATBENTENG.BACAKORAN.CO - Di tengah derasnya arus modernisasi dan masuknya peralatan dapur serba digital, seorang pengrajin asal Desa Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Hamdan Mahyudin, tetap setia menekuni profesinya sebagai pembuat batu giling tradisional.
Pekerjaan yang telah ia jalani selama puluhan tahun itu kini menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus mata pencaharian yang terus ia pertahankan meski hasilnya tak seberapa.
BACA JUGA:Kabar Baik! Dana Desa Earmark Bengkulu Tengah Sudah Bisa Dicairkan, Begini Penjelasan Plt Kadis
Setiap hari, Hamdan mampu memahat hingga empat batu giling setengah jadi dari bahan batu andesit, jenis batu keras yang banyak ditemukan di daerah Liku Sembilan. Setelah batu-batu itu dipahat di lokasi penggalian, ia membawanya pulang untuk disempurnakan melalui proses penggerindaan.
“Sehari bisa kumpulkan empat batu giling setengah jadi, lalu dibawa ke rumah untuk digerinda,” ujar Hamdan saat ditemui di kediamannya.
BACA JUGA:Pemdes Srikaton Usulkan 8 Nama Jalan Baru, Angkat Kearifan Lokal dan Asal Usul Desa
Ia mengenang, beberapa tahun silam dirinya bersama sejumlah pengrajin lain pernah mengikuti pelatihan di Yogyakarta yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Bengkulu Tengah. Pelatihan itu menjadi bekal berharga baginya untuk meningkatkan keterampilan dalam memproduksi batu giling secara efisien.
“Kami pernah ikut pelatihan di Jogja bersama Disperindagkop, tahunnya saya lupa, tapi saat itu Gunung Merapi sedang meletus,” kenangnya sambil tersenyum.
BACA JUGA:Ungkap Kasus Perambahan Hutan, Sepuluh Personel Polres Bengkulu Tengah Diganjar Penghargaan BKSDA
Hamdan menjelaskan, batu giling buatannya dijual dengan harga relatif murah, hanya Rp40 ribu per buah setelah melalui proses penggerindaan. Sementara itu, jika dijual kepada pengepul di pinggir jalan, harga bisa mencapai Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per buah.
“Kalau dijual langsung, harganya sekitar Rp40 ribu. Tapi kalau lewat pengepul, bisa sampai Rp70 ribu atau Rp80 ribu,” tambahnya.
BACA JUGA:Bengkulu Tengah Kebagian Bantuan 8 Unit Bak Pengangkut Sampah dari Gubernur
Menurut Hamdan, batu andesit yang digunakan di Bengkulu Tengah memiliki kualitas lebih kuat dibanding batu larva yang biasa digunakan di Pulau Jawa, sehingga banyak pembeli yang mencari produknya langsung dari daerah tersebut.
Di akhir perbincangan, Hamdan berharap Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah dapat memberikan perhatian lebih terhadap para pengrajin batu lokal. Ia ingin produk tradisional seperti batu giling tetap memiliki nilai ekonomi dan tidak kalah dengan produk buatan pabrik.