Pulang Kotor

--

Kami berencana berhenti satu kali: di rest area Salatiga. Saya sering menjadwalkan istirahat di situ: Bersih. Indah. Dan yang penting ada yang jual durian –di lantai atas. Pasti tamu-tamu saya lupa penderitaan. Ganti bahagia bersama durian Indonesia.

Saya harus pilih rest area yang bersih. Belakangan saya mulai sering mengeluh di banyak rest area: toiletnya sudah tidak bersih lagi. Sudah kotor. Tidak terawat. Bau.

Jangan-jangan sejak Anda merasa gembira toilet di rest area harus gratis. Sebagian Anda mungkin pilih bayar asal bersih. Daripada gratis tapi kotor. Hanya sedikit dari Anda yang berprinsip: bersih dan gratis.

Saya tidak tahu: siapa yang harus memutuskan soal toilet di rest area ini. Yang jelas saya tidak bisa lagi berbangga di depan tamu dari Tiongkok: kami boleh kalah di semua bidang tapi masih menang di kebersihan toilet. Kini di toilet rest area pun kita kalah.

Sangat menyakitkan harus berhenti menulis di posisi kalah seperti itu. Ibarat suporter bola yang timnya kalah oleh gol di menit terakhir. Tulisan mohon maaf lahir batin di toilet rest area tidak akan mendapatkan maaf.(Dahlan Iskan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan