Perbaikan 1.700 Sekolah Terdampak Bencana Sumatra Ditargetkan Tuntas Juni 2026
--
RAKYATBENTENG.BACAKORAN.CO - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memacu percepatan pemulihan layanan pendidikan pascabencana di wilayah Sumatra, meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Tercatat sebanyak 1.741 satuan pendidikan kini masuk dalam program revitalisasi besar-besaran dengan target rampung sebelum tahun ajaran baru 2026/2027.
Perwakilan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen, Jamjam Muzaki, mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran fantastis untuk memastikan anak-anak tidak kehilangan hak belajarnya.
"Hingga 27 Februari 2026, nilai Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi mencapai Rp1,25 triliun, dengan Rp411 miliar di antaranya sudah cair ke rekening sekolah," ujar Jamjam dalam Dialog Kebijakan Kemendikdasmen bersama Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik) di Tangerang Selatan, Senin (2/3/2026).
Dia menyampaikan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti telah menetapkan target ketat agar seluruh sekolah dengan kategori rusak ringan dan sedang selesai diperbaiki pada Juni 2026.
Hal ini bertujuan agar siswa dapat kembali belajar di ruang kelas yang layak saat tahun ajaran baru dimulai.
Namun, dia mengakui sejumlah tantangan berat masih membayangi sekolah dengan kategori rusak berat dan yang memerlukan relokasi.
Jamjam menyebutkan, terdapat 83 sekolah yang harus direlokasi karena lahan asalnya kini berada di zona merah (rawan bencana) atau bahkan sudah berubah menjadi aliran sungai.
"Relokasi ini tantangannya adalah ketersediaan lahan yang merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah. Kami harus memastikan pembangunan infrastruktur baru mempertimbangkan rencana induk zona rawan bencana dari Bappenas," tambahnya.
Bencana di Sumatra memberikan dampak berlapis pada ekosistem pendidikan dari sisi kerusakan fisik banyak bangunan hancur, buku teks terendam lumpur, hingga mebeler dan alat elektronik yang hilang terbawa banjir bandang.
Di Aceh Tengah, sejumlah guru masih harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai menggunakan kabel sling akibat jembatan yang belum pulih.
Dampak lainnya, ribuan siswa dan guru kehilangan tempat tinggal, bahkan menjadi korban jiwa. Untuk mengatasi gangguan ini, Kemendikdasmen telah mendistribusikan 168 tenda kelas darurat dan membangun 44 ruang kelas semi-permanen yang mampu bertahan hingga 3 tahun sebagai solusi jangka pendek.
"Selain fisik bangunan, kesejahteraan pendidik menjadi prioritas. Pemerintah menyalurkan tunjangan khusus sebesar Rp2 juta per bulan selama tiga bulan bagi guru yang terdampak bencana," ungkapnya.
Bantuan tersebut diberikan kepada sebanyak 59 ribu guru. Hingga kini telah terealisasi 36 ribu guru telah menerima bantuan dengan total nilai penyaluran mencapai Rp220 miliar.