Rumah Ahmadi

Sabtu 04 Apr 2026 - 20:42 WIB
Editor : Leonardo Ferdian

"Waktu jaman saya skala nilai di ITB masih maksimum 5, jadi saya 4,2. Kemudian berikutnya di ITB setelah zaman saya skalanya diubah maksimum 4," jelas Dasep saat saya konfirmasi ulang soal IPK 4,2. 

Tapi Dasep tidak menyesali pernah jadi aktivis. "Bermasyarakat itu penting. Untuk apa nilai lebih tinggi tapi tidak banyak manfaat," katanya.

Salah satu yang memakan perhatiannya saat mahasiswa: jadi pengurus masjid Salman ITB. Ia jadi ketua bidang teknologi terapan. 

Setengah hari penuh saya bersama Kang Dasep Senin lalu. Saya ajak ia makan siang di masakan Hungaria. Sebenarnya ia sedang puasa Senin-Kamis tapi saya menggodanya: "dengan membatalkan puasa Anda dapat dua pahala," kata saya.

"Pahala puasanya tetap dapat, pahala menyenangkan orang lain juga dapat," kata saya agak ngawur. Intinya: saya kangen sekali dengan Kang Dasep. Ingin ngobrol panjang.

Saya pilih masakan Hungaria hanya karena lokasinya. Di sebelah klinik stem cell dr Yanti di ArtHotel, Gatot Subroto. Setelah itu Kang Dasep saya ajak podcast di lantai 19 gedung Menara Global. Saya bisa pinjam studio podcast di situ: milik IDN Times. Wartawan senior Uni Lubis, menjabat pemred di situ.

Setelah punya hak paten internasional itu Kang Dasep akan terus fokus ke seputar teknologi baterai. Ia akan terus jualan otak. 

"Apakah tidak masygul kini melihat mobil listrik asing menguasai pasar Indonesia?

"Itulah dulu yang terus kita bahas. Pasar mobil kita, mobil bensin, sudah dikuasai merek asing. Kini kita punya kesempatan di mobil listrik," katanya waktu itu. "Kalau saatnya tiba jangan sampai mobil listrik pun dikuasai asing. Ini waktunya kita siap-siap untuk tidak terantuk batu kedua kalinya," ujar Kang Dasep mengutip upaya yang dilakukan 13 tahun lalu.

Ternyata, 13 tahun kemudian, kita masuk lubang yang sama. 

"Kita tidak usah protes. Jalannya hidup bangsa kita memang harus begitu," katanya. "Kita harus tetap berbuat sesuatu," tambahnya.

Bahwa ia kini menciptakan desain di baterai itu karena sangat mungkin dicapai: pasar kita sangat besar. Sumber material kita, nikel, sangat besar. Kemampuan SDM kita juga besar. "Tiga-tiganya ada di negara kita," katanya.

Dengan menciptakan ''rumah'' baterai yang diintegrasikan dengan sistem pendinginnya Kang Dasep tidak perlu memikirkan jenis baterai yang mengisinya. Bisa lithium fosfat, bisa lithium nikel, bisa solid state, bisa sodium. Apa pun baterainya, pakai ''rumah'' baterai Ahmadi. (Dahlan Iskan)

Tags :
Kategori :

Terkait